Matematika Perlu Disajikan secara Humanistik

Pelajaran Matematika sebaiknya disajikan secara humanistik. Selain lebih menyenangkan, Matematika humanistik mendorong pemahaman yang menyeluruh.

Guru besar Bidang Matematika pada Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta Frans Susilo SJ mengemukakan, pelajaran Matematika secara humanistik berarti menempatkan Matematika sebagai bagian dari kehidupan nyata manusia. Proses pembelajarannya juga menempatkan pelajar bukan sebagai obyek, melainkan subyek yang bebas menemukan pemahaman berdasarkan pengalamannya sehari-hari.

Sebagai subyek pelajaran, murid tidak saja menerima pelajaran dan menghafalkan rumus. Pelajar bebas untuk mencari, merumuskan, mengaplikasikan, dan memaknai pelajaran dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menganalisis karya seni, peristiwa, atau fenomena alam dengan menggunakan Matematika.

“Dengan demikian, mereka belajar untuk menghargai dan mencintai Matematika karena mereka bisa memandang ilmu itu sebagai bagian dalam kehidupan nyata,” kata Frans, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di USD, Yogyakarta, Sabtu (18/10). Judul pidato yang dibawakan adalah Sumbangan Matematika dalam Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-nilai Humanistik.

Motivator

Dalam proses pembelajaran seperti itu, guru berperan sebagai motivator dan fasilitator. Mereka bertugas memberi dorongan dan rangsangan dan memahami serta memberi bantuan ketika dibutuhkan. Dorongan dan rangsangan ini dapat diberikan guru dalam bentuk yang menyenangkan dan lebih nyata seperti permainan maupun pembuatan karya seni.

Beberapa contoh topik Matematika yang dapat dikaitkan dengan mata pelajaran lain antara lain simetri, nisbah, dan fraktal dikaitkan dengan pelajaran kesenian serta teori bilangan pada musik. “Diperlukan rekonstruksi kurikulum sekolah yang menjabarkan Matematika secara konkret pada kehidupan maupun mata pelajaran lain,” tutur Frans.

Selama ini, pelajaran Matematika lebih banyak menempatkan pelajar sebagai obyek dengan menerima saja teori dan menghafal rumus. Padahal, tanpa diterjemahkan dalam kehidupan yang nyata, penggunaan simbol yang abstrak itu membuat pelajar sulit memahami Matematika.

Selain Frans, USD mengukuhkan A Sudiarja SJ sebagai guru besar dalam bidang etika, alam pikir Hindu, dan filsafat manusia. Sudiarja membawakan pidato berjudul Mengapa Koruptor Bergeming dan Keyakinan Menjadi Keras, Telaah tentang Jatidiri Manusia. (IRE)

sumber : kompas.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s